idnnews24 – Ada parfum yang datang, lalu hilang. Tapi ada juga yang… tidak benar-benar pergi. The One salah satunya.
Sudah sekitar dua dekade sejak pertama kali muncul, dan sekarang Dolce & Gabbana memutuskan untuk membawanya kembali. Tapi ya, tentu bukan versi lama yang di putar ulang begitu saja.
Ada yang di ubah.
Yang paling terasa—atau setidaknya yang mereka tonjolkan—adalah aromanya. Di buat lebih kuat. Lebih tahan lama. Istilahnya mungkin: lebih “nempel”.
Kalau di pikir, masuk akal juga.
Dulu mungkin cukup dengan aroma yang ringan, yang halus. Sekarang? Banyak orang justru mencari yang lebih tegas. Yang masih terasa bahkan setelah beberapa jam. Jadi kalau The One mau kembali, ya harus ikut berubah sedikit.
Tapi tidak semuanya di rombak.
Identitas dasarnya, katanya, tetap di pertahankan. Dan ini bagian yang selalu tricky. Karena menjaga “rasa lama” sambil mencoba jadi relevan lagi itu tidak mudah. Sedikit saja melenceng, bisa terasa asing bagi pengguna lama. Tapi kalau terlalu sama, malah terasa ketinggalan.
Jadi, ya… di tengah-tengah.
Selain soal aroma, biasanya hal lain ikut di sentuh. Bisa kemasan, bisa cara brand ini di presentasikan lagi ke publik. Tidak selalu besar perubahannya, tapi cukup untuk memberi kesan: ini bukan sekadar produk lama yang di angkat ulang.
Lebih seperti versi baru dari sesuatu yang sudah di kenal.
Pasar parfum sekarang juga tidak sepi. Banyak pilihan, banyak karakter, dan orang-orang juga semakin punya preferensi sendiri. Tidak asal beli karena nama brand saja.
Mungkin itu juga yang jadi alasan kenapa D&G tidak sekadar mengulang, tapi mencoba menyesuaikan.
Apakah akan berhasil seperti dulu? Belum tentu.
Tapi setidaknya, The One tidak di biarkan jadi cerita lama. Masih di coba untuk tetap hidup—dengan cara yang sedikit berbeda.






