Beranda / HEALTH / Kasus Campak di RI Meningkat, IDAI Soroti Pengaruh Gerakan Antivaksin

Kasus Campak di RI Meningkat, IDAI Soroti Pengaruh Gerakan Antivaksin

idnnews24.com – Ruam merah itu muncul lagi di sejumlah daerah. Bukan satu dua kasus. Angkanya naik. Pelan, lalu terasa makin sering terdengar.

Campak—penyakit yang dulu di anggap sudah terkendali—kini kembali jadi perhatian. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut peningkatan kasus ini berkaitan dengan turunnya cakupan imunisasi. Dan di situ, isu gerakan antivaksin ikut di sorot.

Sebenarnya campak bukan penyakit baru. Vaksinnya pun bukan hal eksperimental. Imunisasi rutin sudah lama tersedia dan terbukti efektif. Tapi masalahnya bukan di ketersediaan. Melainkan pada keputusan.

Masih ada anak-anak yang belum mendapat vaksin lengkap. Entah tertunda, entah sengaja tidak di berikan. Ketika jumlahnya kecil, mungkin tidak terasa. Tapi saat makin banyak orang tua ragu, terbentuklah kantong-kantong populasi rentan. Dan virus, seperti biasa, hanya butuh celah.

Ketua Pengurus Pusat IDAI menegaskan bahwa campak bisa di cegah lewat imunisasi. Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di tengah derasnya informasi—dan misinformasi—pesan sederhana kadang justru kalah suara.

Narasi soal bahaya vaksin, efek samping yang di lebih-lebihkan, hingga teori konspirasi, beredar cepat di media sosial. Sebagian orang tua akhirnya memilih menunda atau menolak imunisasi. Keputusan yang mungkin terasa personal, tapi dampaknya kolektif.

Kementerian Kesehatan sebelumnya juga mencatat lonjakan kasus di beberapa wilayah. Pemerintah kini mendorong program imunisasi kejar, terutama di daerah dengan cakupan rendah. Targetnya jelas: mengejar anak-anak yang terlewat.

Karena campak bukan sekadar demam dan ruam yang hilang dalam beberapa hari.

Dalam sejumlah kasus, komplikasinya bisa serius. Radang paru. Diare berat. Bahkan gangguan pada sistem saraf. Risiko itu nyata, terutama pada anak dengan daya tahan tubuh lemah.

IDAI mengingatkan, perlindungan tidak hanya soal satu anak. Imunisasi membentuk kekebalan kelompok. Ketika mayoritas terlindungi, penyebaran virus terhambat. Tapi jika cakupan turun, perlindungan itu ikut melemah.

Maka seruan kembali di gaungkan: pastikan anak menerima imunisasi sesuai jadwal. Tenaga kesehatan, pemerintah, orang tua—semuanya punya peran.

Karena pada akhirnya, wabah tidak datang tiba-tiba. Ia muncul ketika kewaspadaan longgar. Dan saat itu terjadi, penyesalan biasanya datang belakangan.

Tag: