Beranda / LIFE / Kebiasaan Sepele yang Bisa Diam-diam Merusak Otak, Kata Dokter Saraf

Kebiasaan Sepele yang Bisa Diam-diam Merusak Otak, Kata Dokter Saraf

“Kadang, yang paling sering kita lakukan justru yang paling pelan-pelan merusak,” kata seorang dokter spesialis saraf yang saya temui belum lama ini. Ia tidak sedang menakut-nakuti, tapi menyampaikan fakta yang sering luput dari perhatian.

Otak, menurutnya, bukan cuma butuh asupan gizi atau tidur cukup. Tapi juga perlu di jaga dari rutinitas kecil yang, kalau di biarkan, bisa mempercepat proses penyusutan fungsi dan volume otak. Masalahnya? Banyak orang baru sadar ketika konsentrasi menurun atau mudah lupa.

Yang di maksud bukan kebiasaan ekstrem. Justru hal-hal yang tampak biasa saja: duduk terlalu lama tanpa gerak, terlalu sering begadang, bahkan kurang berinteraksi sosial. Semua itu, bila berlangsung terus-menerus, bisa jadi pemicu penurunan kognitif secara perlahan.

“Orang sering mengira, penyusutan otak itu soal usia. Padahal, pola hidup jauh lebih besar pengaruhnya,” katanya lagi. Ia menambahkan, genetik memang punya peran, tapi bukan penentu segalanya.

Fakta yang cukup mengejutkan, proses penyusutan ini berjalan diam-diam. Tidak langsung terasa. Tapi saat mulai muncul gejala—seperti mudah bingung, susah fokus, atau kehilangan ketajaman memori—biasanya sudah terlambat untuk membalikkan kondisi ke semula.

Karena itu, dokter tersebut menyarankan satu hal: evaluasi kebiasaan kita sehari-hari. Cek ulang, apa yang selama ini kita anggap “normal”, padahal bisa membebani otak dalam jangka panjang. Toh, mencegah selalu lebih ringan di banding mengobati.

Tag: