idnnews24.com – Pertanyaan ini muncul hampir tiap Ramadan: kalau sahur cuma tiga butir kurma, cukup nggak sih buat puasa seharian? Empat belas jam, bahkan bisa lebih.
Sekilas terdengar sederhana. Kurma kan sunnah. Manis, mengenyangkan, praktis. Tapi urusan kebutuhan tubuh tidak sesederhana itu.
Kurma memang bukan makanan sembarangan. Di dalamnya ada gula alami—glukosa dan fruktosa—yang cepat di ubah jadi energi. Ada serat juga, plus sedikit vitamin dan mineral. Makan tiga butir, tubuh langsung dapat dorongan tenaga. Tidak heran banyak orang merasa “aman” setelahnya.
Masalahnya, dorongan itu sifatnya cepat. Bukan panjang.
Ahli gizi biasanya melihat kebutuhan energi bukan hanya dari satu jenis makanan. Tubuh butuh kombinasi. Karbohidrat kompleks untuk pelepasan energi bertahap. Protein untuk menjaga massa otot dan rasa kenyang lebih lama. Lemak sehat untuk cadangan energi tambahan. Dan tentu saja, cairan.
Kalau sahurnya cuma tiga kurma tanpa tambahan apa-apa, besar kemungkinan energi akan cepat turun di tengah hari. Apalagi bagi mereka yang aktivitasnya padat—kerja lapangan, banyak bergerak, atau harus fokus tinggi sepanjang pagi hingga siang. Lemas bisa datang lebih cepat. Rasa lapar juga.
Belum lagi soal cairan. Kurma tidak otomatis memenuhi kebutuhan hidrasi. Kalau asupan air minim saat sahur, risiko dehidrasi meningkat, terutama jika cuaca panas atau aktivitas fisik tinggi.
Itu sebabnya para tenaga kesehatan menyarankan sahur yang lebih seimbang. Tidak perlu mewah. Nasi atau roti gandum sebagai sumber karbohidrat kompleks. Telur, ayam, tahu, atau lauk lain sebagai protein. Sayur dan buah untuk serat tambahan. Dan air putih yang cukup—ini sering di sepelekan.
Tiga butir kurma? Boleh saja. Bahkan bagus sebagai pelengkap. Tapi menjadikannya satu-satunya menu sahur untuk puasa 14 jam jelas bukan pilihan ideal bagi kebanyakan orang.
Tubuh bekerja terus selama puasa. Jantung tetap berdetak. Otak tetap berpikir. Otot tetap aktif. Energi tetap di butuhkan, meski kita tidak makan dan minum.
Jadi, cukupkah tiga kurma? Untuk sebagian kecil orang dengan aktivitas ringan, mungkin terasa cukup. Tapi untuk mayoritas, jawabannya cenderung tidak.
Sahur bukan soal banyaknya makanan. Ini soal komposisi. Dan tubuh biasanya tahu—kalau asupannya kurang, ia akan memberi sinyal.






