Beranda / NEWS / Transjabodetabek Blok M–Bandara Soekarno-Hatta: Opsi Baru ke Soetta Tanpa Ribet

Transjabodetabek Blok M–Bandara Soekarno-Hatta: Opsi Baru ke Soetta Tanpa Ribet

idnnews24 – Pagi-pagi ke bandara itu selalu punya ceritanya sendiri. Alarm bunyi sebelum subuh. Jalanan kadang lengang, kadang justru tak terduga. Dan pertanyaan yang sama muncul lagi: berangkat naik apa?

Dari Jakarta Selatan, pilihan ke Bandara Soekarno-Hatta selama ini ya itu-itu saja. Naik mobil pribadi—berarti siap dengan tol dan parkir. Taksi—lebih praktis, tapi ongkosnya bisa bikin tarik napas. Kereta bandara? Bagus, tapi tidak semua titik dekat aksesnya.

Sekarang ada tambahan jalur. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi membuka rute Transjabodetabek yang menghubungkan Blok M langsung ke Bandara Soekarno-Hatta. Tanpa transit. Tanpa pindah moda di tengah jalan.

Blok M di pilih bukan tanpa alasan. Kawasan ini sejak lama jadi simpul pergerakan warga Jakarta Selatan. Terminal ada, akses MRT ada, angkutan pengumpan pun banyak. Dari titik itu, bus berangkat menuju bandara—langsung.

Buat sebagian orang, ini mungkin terdengar biasa saja. “Cuma bus baru.” Tapi bagi mereka yang tiap bulan bolak-balik terbang, terutama pekerja atau mahasiswa, rute langsung seperti ini bisa memangkas satu kerepotan: tidak perlu lagi bongkar pasang rute.

Dan itu penting. Kadang yang bikin lelah bukan jaraknya, tapi gonta-ganti kendaraan.

Peluncuran rute ini di sebut sebagai bagian dari pengembangan jaringan Transjabodetabek—layanan yang memang di rancang untuk menjahit Jakarta dengan kota-kota penyangga di sekitarnya. Mobilitas warga Jabodetabek sudah lama melampaui batas administrasi. Orang tinggal di Tangerang, kerja di Jakarta. Tinggal di Jakarta, terbang dari Banten. Semuanya saling terhubung.

Bandara Soekarno-Hatta, sebagai pintu utama penerbangan nasional dan internasional, jelas jadi titik krusial. Akses ke sana tak pernah sepi. Pada jam tertentu, ruas tol menuju bandara hampir selalu padat. Mobil pribadi mendominasi. Drop-off antre.

Dengan adanya bus langsung dari Blok M, pemerintah berharap ada pergeseran—pelan-pelan saja dulu—dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Tidak harus drastis. Tapi kalau sebagian pengguna mulai beralih, dampaknya bisa terasa.

Soal biaya, moda bus umumnya lebih terjangkau di bandingkan taksi atau kendaraan daring untuk jarak sejauh itu. Ini jadi pertimbangan nyata, apalagi bagi penumpang yang bepergian rutin atau membawa rombongan.

Tentu saja, efektivitasnya nanti akan di uji oleh waktu. Apakah jadwalnya konsisten. Apakah waktu tempuhnya kompetitif. Apakah penumpang merasa nyaman membawa koper di dalam bus. Hal-hal teknis seperti itu sering kali menentukan apakah sebuah rute bertahan atau sekadar jadi wacana sesaat.

Namun setidaknya, sekarang ada satu pilihan tambahan dari Blok M menuju Bandara Soekarno-Hatta. Tidak perlu transit. Tidak perlu putar arah.

Kadang, dalam kota sebesar Jakarta, tambahan satu jalur saja sudah cukup untuk membuat perjalanan terasa sedikit lebih sederhana.

Tag: