idnnews24.com – Ada nada jujur—bahkan sedikit getir—dalam pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas saat bicara di forum resmi belum lama ini. Ia blak-blakan: Kementerian Agama kekurangan tenaga dan uang.
Bukan hanya sekadar keluhan birokrasi. Menurut Yaqut, keterbatasan anggaran yang di miliki Kemenag saat ini mulai benar-benar menyulitkan roda kerja kementerian yang tugasnya bukan main luasnya. Dari urusan pendidikan madrasah, haji-umrah, sampai membina kehidupan beragama yang makin kompleks dan dinamis.
Di atas kertas, Kemenag butuh sekitar 5.000 pegawai tambahan. Angka itu bukan karangan. Itu hasil hitung-hitungan dari dalam, yang kata Yaqut, mencerminkan betapa kekurangan SDM telah menjadi “lubang” yang mulai terasa lebar.
“Ini bukan soal ingin menambah orang sembarangan,” begitu kira-kira pesan yang coba di sampaikan Menag. Tapi kalau pelayanan publik ingin lebih baik, terutama di sektor-sektor sensitif seperti keagamaan, tenaga manusia tetap kunci utama. Mesin tak bisa menyapa jemaah haji. Aplikasi tak bisa menggantikan guru madrasah.
Sementara itu, soal anggaran, tak kalah pelik. Banyak program di bawah Kemenag harus di peras agar bisa jalan, meski idealnya memerlukan dukungan logistik yang lebih memadai. Realitasnya, kata Yaqut, dana yang tersedia sering kali jauh dari cukup. Banyak rencana yang akhirnya cuma bisa jadi rencana.
Untuk mengatasi itu, Menag bilang pihaknya akan mengajukan usulan resmi: tambahan personel dan penguatan anggaran. Tapi semuanya tetap harus melalui prosedur—koordinasi lintas kementerian, pembahasan dengan DPR, dan tentu saja… menunggu lampu hijau dari para pengambil keputusan anggaran.
Intinya, Kemenag butuh penguatan. Dan mumpung masih awal tahun, Yaqut ingin agar ini jadi momentum menyuarakan kebutuhan itu secara terbuka. Tidak untuk mengeluh, katanya, tapi agar publik tahu kondisi riil di balik meja pelayanan negara. Karena di ujungnya, semua ini—anggaran, pegawai, program—tujuannya satu: pelayanan ke masyarakat. Dan tanpa tenaga cukup, itu hanya akan jadi beban yang makin berat dipikul dari tahun ke tahun.






